Jumat, 13 April 2012

Ungga - Lombok Tengah (Selamat datang Ibu Ani)

Hai...selamat hari Jumat, selamat menyambut weekend. 
Senang rasanya bisa sedikit mengisi kekosongan dipojokan ini. Setelah agak lama (padahal cukup lama) tidak menulis, hari ini saya akan berbagi tentang perjalanan saya tadi pagi. Sederhana sih, bukan jalan-jalan ketempat wisata, bukan juga keluar daerah dan berfoto ditempat-tempat menarik.

Jadi, biasanya setiap jumat pagi saya datang kekantor melebihi waktu yang seharusnya, kasarnya sih terlambat. (hehe, tidak patut dicontoh ya). Tadi pagi juga seperti itu. Tapi keterlambatan saya pagi ini, sepertinya tidak pas, harusnya saya datang lebih terlambat lagi agar tidak ikut perjalanan yang saya ceritakan diawal tulisan ini (anak muda yang payah).  

Ok, saya mulai bercerita. Tujuannya adalah, ke Desa Ungga. sebuah desa di salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Rencananya sih Ibu Negara akan berkunjung ke Desa ini. dalam waktu dekat (Mohon maaf saya tidak terlalu jelas kunjungannya  dalam rangka apa,jujur saja karena saya tidak terlalu memperhatikan itu). Yang pasti, ibu Ani akan mengunjungi salah satu taman bacaan, serta pemanfaatan teknologi tepat guna yang berada didesa tersebut. Dalam perjalanan kesana, pada awalnya semua lancar-lancar saja, sampai akhirnya setelah melewati jalan by pass yang mulus dan beraspal mewah (terlebih karena jalan ini baru), kami harus melewati jalanan yang ya lumayan melelahkan.karena lubang  dimana-mana. Tapi tidak heran sih, karena didaerah saya ini, tidak sedikit jalanan yang serupa itu bahkan lebih parah. It's oke, kita tidak akan membahas tentang itu sekarang.

Yang akan saya ceritakan adalah, bagaimana keadaan desa Ungga ini. Percaya atau tidak, saya tidak pernah langsung melihat keadaan sebuah desa yang walaupun tidak jauh dari ibukota kabupaten namun keadaannya masih ya 'desa banget'. Pemandangan pertama yang menarik perhatian selain jalanan yang saya rasa kurang diperhatikan adalah, di desa ini masih banyak tumah-rumah tradisional yang beratap jerami dan berdinding anyaman bambu, dihalamannya tidak jarang saya lihat genangan air (semoga tidak ada nyamuk bersarang disana). Yang paling menarik menurut saya adalah. ada aliran air seperti got lumayan besar yang mungkin digunakan sebagai sumber pengairan untuk persawahan dan ada aliran lagi yang ada bersebelahan dengan aliran air yang satunya, letaknya lebih tinggi, dan ada satu atau dua jamban yang bisa langsung saya lihat dari dalam mobil. (semoga air yang mengalir disana juga tidak untuk memasak)

Masih banyak sawah membentang dikanan kiri jalan. Tapi panasnya sungguh sangat terasa. Setelah sampai ditempat yang kami tuju,  (Saya hampir lupa menceritakan untuk apa kami kedesa ini. Jadi, kami mengadakan gotong royong membersihkan jalan untuk menyambut kedatangan Ibu Negara kita tercinta) kami melancarkan misi membersihkan kiri kanan jalan agar nantinya saat ibu negara lewat akan menilai desa ini besih. Yah mungkin tujuannya seperti itu kurang lebih. Dan saat itu saya melihat fenomena lain didesa ini, entah apa yang menjadi aliran feng shui yang dianut, karena setelah saya memperhatikan beberapa rumah ternyata kamar mandinya malah berada dihalaman depan, itupun masih semi permanen.  Bisa dibayangkan, bila saat sedang mandi ada tamu yang datang, wow.

Mungkin, karena tadi hari masih pagi, jadi tidak banyak masyarakat desa yang ikut turun langsung bergotong-royong membersihkan lingkungan mereka. Ataukah mereka terlalu heran baru kali itu ada segerombolan orang bermobil yang datang hanya untuk membersihkan sepanjang jalan desa mereka. 

Any way,  hal penting yang bisa saya lihat di desa yang masih sangat desa ini adalah, 
  • kehidupan sangat sederhana sepertinya masih dipegang oleh penduduknya. 
  • Oh ya, diperjalanan waktu kedatangan saya tadi, saya melihat komplek kandang sapi atau kerbau (entahlah), letaknya dipinggir jalan, alhasil, tercium aroma yang tidak bersahabat disepanjang perjalanan itu.  
  • Ada bangunan kosong, seperti kantor, tapi benar-benar kosong, entah digunakan sebagai Puskesmas pembantu ataukah polindes saya kurang jelas, alhasil peruntukan bangunan itu menjadi ajang tebak-tebakan yang tidak berujung untuk kami
  • Rumah indah dan megah didesa ini banyak, tapi rumah seadanya juga banyak, jadi saya melihat ada kesenjangan yang cukup jelas didesa ini, yah mungkin karena banyak yang menjadi TKI dan beruntung diluarnegeri sana sehingga bisa mengirimi keluarganya uang untuk membangun rumah megah itu. (TKI di Lombok cukup banyak guys, dan Lombok menjadi salah satu penyuplai TKI terbesar di Indonesia)
  • Banyak pemaandangan menyejukkan di desa ini, nenek yang setia menemani cucunya, kakek-kakek yang asik mengobrol sambil menunggu ada yang membeli anyaman bambunya, kesederhanaan mereka terutama.
Andai saja Pemerintah daerah bisa memberdayakan seorang ahli tata ruang untuk mengelola sanitasi, drainase dan segala sesuatu tentang itu didesa ini ya tentu saja dengan keterbukaan dan kerjasama yang baik dari masyarakat desa, tanpa mengurangi nilai dan kearifan yang ada saya rasa semua akan lebih baik. Entah apa yang ada dipikiran ibu Ani melihat jalanan desa yang berdebu dan berlobang sana sini, entah kendaraan apa yang akan dipakai untuk melewati jalan itu agar tetap nyaman. Entah akan ada tindak lanjut atau tidak untuk memperbaiki keadaan, bukan hanya desa ini, tapi juga desa yang lain yang mungkin lebih tidak baik keadaannya diseluruh Indonesia. Entahlah,..yang jelas, saya rasa pemerintah telah melakukan yang terbaik (semoga)

Well, saya bangga dengan segala keterbatasan yang dimilki daerah saya, bukan karena sekarang kami memilki Bandara Inetrnasional (toh dampaknya tidak terlalu besar) bukan juga karena sekarang banyak investor yang ingin menanamkan modal disini. Lebih dari itu, saya bangga karena hijau masih terlihat sejauh mata memandang, karena ketentraman masih terasa setiap pagi saat membuka mata, karena rasa aman masih kami miliki buah dari tingkat kriminlaitas yang mampu ditekan.

Yang saya inginkan (dan mungkin juga yang diinginkan sebagian besar orang ) adalah, kesejahteraan. Tidak terlampau jauh batasan antara yang kaya dan yang tak berpunya. Kesahajaan para pembesar disana untuk mau tau keadaan masyarkat yang telah memilih mereka. Mungkin kuncinya Kepedulian.

Tia,

Sabtu, 07 April 2012

Selamat Bertambah Usia Bunda

Teruntuk wanita yang dikakinya terletak surga
Menjadi sempurna adalah sebuah ketidakmungkinan
Namun, memiliki kasih sayang sempurna adalah hal yang -sepertinya- mudah kau lakukan
Aku, tidak memiliki ilmu apapun
Untuk menyamai itu, bahkan untuk sekedar menyesuaikan

Teruntuk wanita yang sinar matanya setulus matahari
memberi, tanpa mengaharap kembali
senantiasa merekah seindah datangnya pagi
selalu ada, jika sudah tak tau kemana arah berlari

aku hanya merangkai aksara
Agar terurai menjadi sekedar kata
Tak senilai dengan barisan kata-kata
yang telah kau ucapkan padaku sepanjang usia
dan juga air mata
Yang -mungkin- jatuh saat aku tak berkata iya
atas segenap harap dan pinta

Teruntuk wanita yang dari rahimnya membentuk aku
terimakasih atas segala peluh
atas risau yang kau rasa saat ku jauh
Atas tangis yang tersembunyi
Agar aku mampu tenang dalam setiap langkah saatku sendiri

Teruntuk wanita yang penuh dengan kesahajaan disana
Setengah abad sudah kau menapaki dunia
dan separuh dari itu tak tersisa
Hanya untuk menenamkan cinta
untukku buah hati yang hanya tau meminta

Selamat bertambah usia Bunda
Aku tidak akan menjadi aku yang sekarang, tanpa kasih sayangmu

 Tia, 03 April 2012
Spesial For My Mom